Daftar Anggota
  • Berita
  • Enam Tahun Menumpang, Penius Dewelek Onime Perjuangkan Asrama Mahasiswa Puncak di Nabire
Enam Tahun Menumpang, Penius Dewelek Onime Perjuangkan Asrama Mahasiswa Puncak di Nabire
Enam Tahun Menumpang, Penius Dewelek Onime Perjuangkan Asrama Mahasiswa Puncak di Nabire

Enam Tahun Menumpang, Penius Dewelek Onime Perjuangkan Asrama Mahasiswa Puncak di Nabire

NABIRE — Enam tahun berlalu, pelajar dan mahasiswa asal Kabupaten Puncak yang menempuh pendidikan di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, masih menempati rumah kontrakan. Ketiadaan asrama permanen bukan hanya menyangkut persoalan tempat tinggal, tetapi juga keterbatasan ruang yang layak untuk belajar, berkumpul, dan mengembangkan kegiatan organisasi.

Persoalan itu menjadi perhatian Ketua Komisi I DPRP Papua Tengah dari Partai Perindo, Penius Dewelek Onime, saat menyerap aspirasi pelajar, mahasiswa, pengurus organisasi, dan penghuni kontrakan di Nabire. Sejak 2020, mereka menempati rumah kontrakan sebagai tempat tinggal selama menjalani pendidikan. “Aspirasi ini menjadi catatan penting bagi kami di DPRP,” kata Penius, Selasa (8/9).

Menurut Penius, kebutuhan terhadap asrama perlu dilihat lebih jauh sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia. Pendidikan menjadi salah satu pintu awal bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan ekonomi yang lebih baik. Karena itu, penyediaan lingkungan belajar dan tempat tinggal yang layak bagi pelajar dan mahasiswa juga berkaitan dengan upaya menyiapkan generasi yang kelak dapat berkontribusi terhadap perekonomian daerah. 

Pandangan tersebut sejalan dengan semangat Partai Perindo yang menempatkan ekonomi sebagai salah satu perhatian utama, termasuk melalui penguatan kualitas sumber daya manusia.

Para pelajar dan mahasiswa berharap Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Puncak segera merealisasikan pembangunan gedung asrama permanen. Kepastian lahan juga menjadi kebutuhan mendasar agar pembangunan dapat dilaksanakan secara jelas dan berkelanjutan. “Lahannya harus jelas dan legal agar pembangunan bisa direalisasikan,” tutur Penius yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammadiyah Jayapura.

Kebutuhan mahasiswa tidak berhenti pada tempat tinggal. Mereka juga mengusulkan pembangunan aula yang dapat digunakan sebagai ruang pertemuan, diskusi, kegiatan organisasi, pembinaan, serta aktivitas akademik dan sosial. 

Sebagai Ketua Komisi I, Penius mengatakan aspirasi tersebut akan didorong dalam pembahasan anggaran dan rapat kerja bersama Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Puncak. “Aspirasi ini akan kami dorong dalam pembahasan anggaran dan rapat kerja dengan pemerintah,” tutur legislator berusia 40 tahun tersebut.

Dalam kunjungan kerja tahap II 2026 itu, Penius turut menyerahkan bantuan uang tunai, beras, dan kebutuhan pokok kepada para penghuni asrama. “Bantuan ini untuk membantu kebutuhan sehari-hari pelajar dan mahasiswa selama menempuh pendidikan di Nabire,” ungkapnya. 

Menurut dia, pembangunan asrama permanen pada akhirnya bukan sekadar mengganti rumah kontrakan dengan bangunan baru, melainkan menyediakan ruang yang lebih layak bagi pelajar dan mahasiswa Puncak untuk tinggal, belajar, berorganisasi, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.