Daftar Anggota
  • Berita
  • Welhelm Kurnala Dorong Penanganan Karhutla Terpadu, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga Maluku
Welhelm Kurnala Dorong Penanganan Karhutla Terpadu, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga Maluku
Welhelm Kurnala Dorong Penanganan Karhutla Terpadu, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga Maluku

Welhelm Kurnala Dorong Penanganan Karhutla Terpadu, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga Maluku

MALUKU - Dampak kabut asap di Maluku telah menjadi perhatian sejumlah instansi pemerintah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pada 7 Oktober 2026 bahwa asap tipis hingga sedang menyelimuti wilayah Maluku, dengan jarak pandang berkisar 5–9 kilometer. Sehari sebelumnya, BMKG juga mencatat kondisi asap tebal pada pagi hari dengan jarak pandang kurang dari lima kilometer pada 3 Oktober.

*Ketua DPW Partai Perindo Maluku yang juga anggota DPRD Provinsi Maluku, Welhelm Daniel Kurnala,* mendorong pemerintah memperkuat koordinasi dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, transportasi, pendidikan, dan kegiatan ekonomi.

Welhelm menilai penanganan karhutla perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari pemadaman di lokasi kebakaran hingga pemantauan kualitas udara dan perlindungan masyarakat. Menurut dia, dampak asap yang melintasi wilayah administrasi membutuhkan koordinasi pemerintah pusat dan daerah.

“Penanganan karhutla perlu dilakukan secara serius dan terkoordinasi. Kita tidak hanya perlu memadamkan api, tetapi juga memastikan dampak asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat dapat dikendalikan,” kata Welhelm.

Menurut Welhelm, pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan, kesiapsiagaan, dan penanganan di lapangan. Ia mendorong pemerintah memastikan koordinasi antarlembaga berjalan efektif, terutama ketika kebakaran di satu wilayah berdampak pada wilayah lain.

“Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat kerja sama, baik dalam pemadaman maupun pemantauan dampak asap. Informasi yang akurat dan langkah yang cepat sangat penting agar masyarakat mengetahui kondisi yang dihadapi dan dapat mengambil langkah perlindungan,” ujarnya.

Dampak kabut asap terhadap kegiatan pendidikan juga mulai terlihat di sejumlah wilayah. Di Kabupaten Seram Bagian Timur, empat satuan pendidikan di wilayah transmigrasi Bula Barat mengalihkan jam belajar dari pagi ke siang karena asap tebal pada pagi hari. Dinas Pendidikan setempat menyebut penyesuaian dilakukan melalui koordinasi dengan pihak sekolah dan unit pelaksana teknis daerah.

"Saya berharap langkah nyata penanganan karhutla di Maluku, sudah terlalu lama masyarakat maluku menunggu solusi dan peran serta pemerintah. Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di lokasi kebakaran sekarang juga,” tutur Welhelm.

Welhelm berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada kondisi darurat, tetapi juga memperkuat pencegahan menjelang dan selama periode kering. Patroli di wilayah rawan, larangan pembakaran lahan, pemantauan cuaca, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi bagian dari upaya yang perlu dijalankan secara berkelanjutan.

“Karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan kerja bersama. Kami berharap upaya pemerintah terus diperkuat agar risiko kebakaran dapat ditekan, masyarakat terlindungi, dan aktivitas ekonomi maupun pelayanan publik dapat berjalan dengan baik,” kata Welhelm.