Wilem Assem Serukan Penghentian Pembakaran Hutan dan Lahan di Papua Barat Daya
SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Anggota DPR Provinsi Papua Barat Daya dari Partai Perindo, Wilem Assem, menyerukan penghentian segala bentuk pembakaran hutan dan lahan menyusul besarnya dampak kebakaran terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Ia mengingatkan, asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan pencemaran udara, melainkan dapat menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga.
Menurut Wilem, semua pihak perlu memahami bahwa kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak berantai. Selain menghancurkan vegetasi dan habitat satwa, kebakaran menghasilkan partikel halus yang dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di wilayah yang lebih luas. Karena itu, pencegahan kebakaran harus menjadi tanggung jawab bersama, terutama dengan tidak membuka atau membersihkan lahan menggunakan cara membakar.
“Jangan membakar hutan dan lahan. Asap adalah racun yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat dan merusak lingkungan. Kita harus menjaga hutan Papua agar tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang,” ujar Wilem pada Kamis (8/10).
Wakil Ketua DPW Partai Perindo Papua Barat Daya itu menyoroti kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga yang memiliki penyakit pernapasan dan penyakit kronis perlu mendapatkan perlindungan lebih ketika terjadi kebakaran. Paparan partikulat halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika konsentrasi polutan berada pada tingkat yang tinggi.
Dampak karhutla, kata Wilem, juga tidak berhenti pada persoalan kesehatan. Kebakaran dapat menghancurkan habitat satwa, mengganggu keseimbangan ekosistem, merusak struktur tanah, serta mengurangi kemampuan lingkungan dalam menyerap dan menyimpan air. Dalam jangka panjang, kerusakan tersebut dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kekeringan, banjir, dan longsor.
“Papua memiliki kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang harus kita jaga. Jangan sampai hutan yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh hilang dalam waktu singkat karena kebakaran. Menjaga hutan berarti menjaga kesehatan, kehidupan, dan masa depan masyarakat Papua Barat Daya,” kata Wilem.
Ia mengajak pemerintah daerah, masyarakat, tokoh adat, serta seluruh pemangku kepentingan memperkuat pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Menurut Wilem, upaya menjaga hutan tidak cukup dilakukan ketika kebakaran telah terjadi, tetapi harus dimulai dari kesadaran untuk mencegah pembakaran dan menjaga ekosistem secara berkelanjutan.


