Demi Indonesia, TGB Zainul Majdi: Kader Partai Perindo Harus Kesampingkan Ego Pribadi
Jumat 09 September 2022 20:17 WIBJAKARTA - Kader Partai Perindo diminta mengesampingkan ego pribadi. Yang harus diutamakan adalah kepentingan Indonesia.
Hal ini disampaikan Ketua Harian Nasional DPP Partai Perindo TGB HM Zainul Majdi saat memberikan pengarahan dalam musyawarah kerja wilayah (Muskerwil) DPW Partai Perindo Sumatera Utara.
TGB sekaligus menyampaikan, bila harapan Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo adalah bekerja kolektif melalui parpol mengikhtiarkan kesejahteraan bersama.
"Bekerja bersama-sama untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat," katanya, Jumat (9/9) di Medan.
BACA JUGA: Untuk informasi tahapan dan mekanisme Konvensi Rakyat, kunjungi konvensirakyat.com
"Untuk itu ego pribadi harus dikesampingkan," sambungnya.
Dijelaskan, partai ini inklusif, apapun agama, ras, latar belakang, selama punya kehendak dan visi membangun Indonesia maka diberi kesempatan bergabung.
"Ada beberapa nilai di Partai Perindo harus diketahui oleh para kader," imbuhnya.
Beberapa nilai di Partai Perindo, lanjut Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia ini adalah nilai persatuan sesuai dengan namanya Persatuan Indonesia.
Ini dimaknakan kata kerja, karena persatuan ini hasil dari kerja dari founding father.
"Bagaimana para pendiri bangsa dengan latar belakang ideologi, sekolah, suku, maupun agama bersatu untuk berdirinya Indonesia," urainya.
BACA JUGA: Untuk informasi dan registrasi keanggotaan Partai Perindo,kunjungi bit.ly/MemberPartaiPerindo
TGB melanjutkan, kader Partai Perindo tak boleh terpecah belah seperti disampaikan dalam Alquran. Kitab suci agama yang lain pun menyampaikan yang sama.
Selain itu, lanjut TGB, tak boleh mengklaim kelompoknya paling berjasa. Menyebut yang paling benar. Bila ini berjalan, maka akan gagal untuk mencapai tujuan sebagai bangsa.
"Hilang marwah di depan bangsa lain. Dilecehkan sebagai bangsa karena mengesampingkan nilai (kebersamaan)," ujarnya.
TGB berpesan supaya mengejar kekuasaan tak menghalalkan segala cara. Seni mengejar kekuasaan seringkali membutakan diri. Terlena atas nama kekuasaan.
" Ujung-ujungnya menjadikan konflik dan perpecahan. Hal ini jangan sampai terjadi," pesannya.
Okezone


