Daftar Anggota
  • Berita
  • Dua Hari Susuri Laut, Rampeani Rachman Antar 1 Ton Pangan ke Kapiraya
Dua Hari Susuri Laut, Rampeani Rachman Antar 1 Ton Pangan ke Kapiraya
Dua Hari Susuri Laut, Rampeani Rachman Antar 1 Ton Pangan ke Kapiraya

Dua Hari Susuri Laut, Rampeani Rachman Antar 1 Ton Pangan ke Kapiraya

Kamis 19 Februari 2026 15:08 WIB

MIMIKA - Ketakutan masih menghantui Kapiraya, Papua Tengah. Bentrokan akibat sengketa tapal batas yang meletus pekan lalu itu mengakibatkan ratusan warga mengungsi dan ruang-ruang kelas kosong tanpa suara anak-anak. “Sampai saat ini anak-anak belum kembali ke sekolah,” ungkap anggota DPRK Mimika Rampeani Rachman, Kamis (19/2/2026). 

Di tengah situasi itu, bantuan pangan seberat satu ton diangkut menyusuri jalur laut menuju kampung yang kini diliputi waswas. Bahan makanan tersebut dibagikan kepada warga terdampak yang untuk sementara tak lagi leluasa mencari nafkah akibat konflik yang berujung aksi saling serang bersenjata tajam.

Bantuan itu diantar langsung oleh Rampeani Rachman. Anggota Komisi III DPRK Mimika ini menempuh perjalanan laut selama dua hari menggunakan perahu fiber untuk memastikan kondisi warga yang mengungsi. “Saya turun langsung untuk memastikan kondisi masyarakat di sana, mencarikan solusi terbaik buat mereka,” katanya. 

Saat di lokasi, yang didapatinya bukan hanya dapur-dapur yang tidak lagi mengepul, melainkan juga sekolah yang berhenti berdenyut. Rasa takut membuat orang tua enggan melepas anak-anak mereka ke ruang kelas.

“Setelah konflik kemarin, anak-anak tidak bersekolah karena ketakutan. Bagaimana anak-anak mendapat pendidikan yang layak jika terus dibayangi rasa takut,” tutur legislator Partai Perindo ini. 

Dia mengungkapkan, jika persoalan tapal batas tidak segera dituntaskan, dampaknya tidak hanya pada keamanan dan keselamatan, tetapi juga masa depan generasi muda. Pendidikan bisa lumpuh dan mimpi anak-anak terkubur oleh sengketa yang berlarut.

Rampeani mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah mempertemukan pemerintah daerah terkait untuk mencari solusi sembari menunggu keputusan pemerintah pusat. “Ini persoalan kemanusiaan yang harus segera ditangani bersama. Ini tanggung jawab moral kita bersama,” tegasnya.