Daftar Anggota
  • Berita
  • Gelar Ekspedisi, Partai Perindo NTB Komit Selamatkan Jajanan Khas NTB yang Nyaris Punah
Gelar Ekspedisi, Partai Perindo NTB Komit Selamatkan Jajanan Khas NTB yang Nyaris Punah
Poteng Jaje Tujak merupakan salah satu makanan khas Lombok, NTB

Gelar Ekspedisi, Partai Perindo NTB Komit Selamatkan Jajanan Khas NTB yang Nyaris Punah

Rabu 12 Oktober 2022 17:05 WIB

LOMBOK -- Jajanan khas Bumi Gora di Nusa Tenggara Barat (NTB) kini mulai tergerus zaman. Perlu dibukanya mata generasi muda, betapa Bumi Gora memiliki kudapan yang tiada tara. Kudapan-kudapan yang terlahir dari kekayaan dan keragaman budaya warga NTB ada semenjak masa lampau.

“Kami meyakini bahwa pada setiap kudapan tradisional yang kita miliki, pasti ada 1.000 cerita di baliknya,” kata Ketua DPW Partai Perindo NTB Lalu Athari Fathullah, di Mataram, Senin (10/10).

Athar mengatakan sebelum ekspedisi jajanan khas mulai digelar, sejumlah rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-8 Partai Perindo telah digelar pihaknya. Di antaranya telah menyalurkan sumbangan donasi untuk pedagang kecil dan masyarakat kurang mampu.

"Melalui donasi ini Partai Perindo NTB ingin mengajak seluruh komponen untuk berbagi beban kehidupan sekaligus memberikan spirit saling memanusiakan antar sesama," kata Bendahara Perindo NTB, Zumroni Muhammad.

BACA JUGA: Untuk informasi dan registrasi keanggotaan PartaiPerindo,kunjungi bit.ly/MemberPartaiPerindo

Terkait ekspedisi jajanan khas Bumi Gora, lanjut Athar berangkat dari kerisauan Partai Perindo manakala jajanan tradisional NTB sampai terlupakan. Jajanan-jajanan tradisional tersebut seolah tenggelam oleh menjamurnya waralaba-waralaba yang memakai brand luar negeri. 

Akibatnya, generasi masa kini, labih akrab misalnya dengan burger, ketimbang makanan dari daerahnya sendiri.

Dia memberi contoh, mungkin banyak anak-anak muda di NTB yang mengetahui dan pernah melihat Jaje Tujak dan Poteng, penganan khas masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok. Namun, Athar meyakini, tak banyak di antara anak-anak muda tersebut yang mengetahui bagaimana Jaje Tujak dan Poteng tersebut diolah dan dibuat.

Pun begitu misalnya. Mungkin tak banyak generasi milenial suku Mbojo yang mengenal Range, kue yang diolah dari beras ketan yang dicampur kelapa dan gula dengan cita rasa yang sungguh lezat. Atau Pangaha Bunga, kudapan gurih dan nikmat yang sama sekali tak mengandung bahan kimia atau pengawet.

“Itulah yang menginisiasi kami untuk melakukan ekspedisi ini, yang kami hajatkan bisa turut memberi kontribusi pada upaya menyelamatkan dan mengangkat kembali marwah panganan tradisional Bumi Gora,” kata Athar.

BACA JUGA: Untuk informasi tahapan dan mekanisme Konvensi Rakyat, kunjungi konvensirakyat.com

Ditegaskannya, dengan digelarnya ekspedisi ini, bukan berarti pihaknya anti dengan jajanan modern. Pihaknya hanya ingin agar jajanan tradisional Bumi Gora, juga mendapat tempat yang sama terhormatnya dengan kudapan-kudapan masa kini.

“Dengan ekspedisi inilah, Partai Perindo ingin mengenalkan dan mendekatkan generasi milenial NTB pada kekayaan kelezatan kuliner warisan nenek moyang kita,” imbuh politisi asal Lombok Tengah ini.

Ekspedisi akan dimulai pekan ini dengan secara bertahap menjangkau seluruh kabupaten/kota di NTB. Dimulai dari Pulau Lombok dan baru kemudian menjangkau seluruh daerah di Pulau Sumbawa.

Tim ekspedisi Partai Perindo NTB, kata Athar kini telah menyiapkan daftar panjang penganan khas Bumi Gora tersebut. Penganan-penganan yang masuk dalam daftar panjang itu, tentu saja penganan yang dari sisi cita rasa disebut Athar, benar-benar juara.

Sementara itu, Sekretaris DPW Partai Perindo NTB, Abdul Majid menjelaskan, setiap daerah di Lombok dan Sumbawa memiliki jajanan khas. Sebagaimana lazimnya makanan tradisional, jajanan khas tersebut adalah cerminan masing-masing daerah. 

Mulai dari pemilihan bahan, pembuatan dan cara penyajian dan cara menikmatinya, pastilah kental dengan budaya yang adiluhur.

“Jangan lupa, jika dibanding dengan kuliner-kuliner dari luar Indonesia, sesungguhnya makanan khas tradisional itu lebih sesuai dengan selera lidah kita. Makanan tradisional juga dalam proses pembuatannya boleh dibilang lebih sehat. Dari sisi harga pun, makanan tradisional jauh lebih murah dibanding penganan atau makanan dari luar yang sudah kesohor,” kata Majid.

Suarakarya