Daftar Anggota
  • Berita
  • Hari Kebangkitan Nasional, Perindo Nilai Jiwa Nasionalisme Kalangan Milenial Masih Memudar
placeholder-news

Hari Kebangkitan Nasional, Perindo Nilai Jiwa Nasionalisme Kalangan Milenial Masih Memudar

Kamis 20 Mei 2021 15:20 WIB

JAKARTA - Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap 20 Mei masih menyisakan sejumlah catatan bagi Partai Perindo terutama soal nasionalisme anak bangsa. Alasannya, di tengah perkembangan zaman saat ini kesadaran kalangan milenial akan sejumlah aspek masih minim. "Mengapa rasa nasionalisme di kalangan anak muda memudar karena kurangnya kesadaran literasi di kalangan anak muda, bahkan masyarakat Indonesia," kata Ketua Bidang Keagamaan DPP Partai Perindo Abdul Khaliq Ahmad, Kamis (20/5/2021). Memudarkan kesadaran literasi, dikatakan Abdul Khaliq, terutama pada aspek kesejarahan nasional yang merupakan kunci kokohnya nasionalisme. Padahal, di era digital saat ini semestinya kemajuan iptek mempermudah anak bangsa untuk memiliki kesadaran nasionalisme yang tinggi karena informasi sudah dalam genggaman setiap orang melalui gadget. "Pertanyaannya adalah apakah yang bersangkutan mau dan bersungguh-sungguh mempelajari sejarah perjuangan bangsa dan negara," ungkapnya. Menurutnya tidak hanya masyarakat dan kalangan milenial, tentu aspek keteladanan dari para pemimpin dan elite politik di Indonesia juga sangat diperlukan. "Karena keteladanan itu sangat mudah mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang daripada sekadar membaca sejumlah teori," tutup Abdul Khaliq. Untuk diketahui, sejak berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, Hari Kebangkitan Nasional selalu diperingati setiap 20 Mei. Presiden Soekarno menetapkan Harkitnas pada tanggal berdirinya Boedi Oetomo pada 1948 di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Kebijakan kemudian diperkuat dengan Keppres 1/1985 tentang Penyelenggaraan Peringatam Hari Kebangkitan Nasional. Organisasi Boedi Oetomo pada awalnya bergerak di bidang sosial ekonomi dan kebudayaan yang dibentuk oleh para cendekiawan Jawa atau mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding Van Indische Artsen) tahun 1908. Budi Utomo juga menjadi pelopor perjuangan kemerdekaan dengan memanfaatkan kekuatan pemikiran. Organisasi ini juga mendorong terbentuknya beberapa organisasi perjuangan lainnya.