Kawasan Pelabuhan Pulau Baai Macet, Legislator Partai Perindo Bengkulu Minta Jangan Terburu-buru Salahkan Sopir Angkutan
Kamis 02 Februari 2023 15:19 WIBBENGKULU – Pemerintah Provinsi Bengkulu diminta tidak terburu-buru menyimpulkan kemacetan arus lalu lintas di kawasan Pelabuhan Pulau Baai diakibat oleh para sopir angkutan.
Demikian disampaikan anggota DPRD Provinsi Bengkulu dari Partai Perindo Yurman Hamedi kepada awak media seusai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) antisipasi kemacetan, Rabu (1/2/2023).
“Kita nyatakan dalam Rakor tadi (kemarin, red) belum ada kesimpulan sama sekali. Tapi yang terpenting telah menyikapi kemacetan kendaraan di kawasan Pelabuhan Pulau Baai itu," ujar Yurman yang juga sebagai Ketua Dewan Pertimbangan APTRINDO Provinsi Bengkulu ini.
BACA JUGA: Untuk informasi dan registrasi keanggotaan PartaiPerindo,kunjungi bit.ly/MemberPartaiPerindo
Ia meminta Pemerintah Daerah (Pemda) setempat jangan terlalu mudahlah mengambil kesimpulan. Dalam artian dicari terlebih dahulu apa persoalan utamanya hingga terjadinya kemacetan di kawasan pelabuhan tersebut.
Apalagi, lanjut Yurman, keberadaan kawasan Pelabuhan Pulau Baai memiliki daya dukung untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di Provinsi Bengkulu ini.
“Karena sama-sama kita ketahui jika Pelabuhan Pulau Baai itu merupakan salah satu alur keluar masuk barang baik dari atau ke Provinsi Bengkulu,” kata legislator Partai Perindo Bengkulu tersebut.
Menurutnya, sebagaimana yang diketahui kemacetan arus angkutan di kawasan Pelabuhan Pulau Baai, itu murni diakibatkan belum terpenuhinya peralatan ataupun sarana prasarana penunjung di Pulau Baai.
“Misal seperti kompayer rusak, timbangan macet, jalan rusak dan lainnya. Harusnya fakta itu lebih ditekankan pada pengelola pelabuhan dan pemilik stockfile,” tegas Ketua DPW Partai Perindo Bengkulu itu.
BACA JUGA: Untuk informasi tahapan dan mekanisme Konvensi Rakyat, kunjungi konvensirakyat.com
Apabila mengacu kepada jumlah angkutan khususnya batu bara, diperkirakan dalam sehari mencapai 300 unit. Mengingat produksi batu bara di Provinsi Bengkulu ini dalam setahun hanya berkisar 3 juta ton per tahun.
“Selama ini tidak ada kemacetan. Hanya beberapa waktu lalu saja terjadi kemacetan, dan murni bukan disebabkan soal angkutan,” ujarnya.
Hanya saja, Yurman menyayangkan adanya kabar bahwa penyebab kemacetan cenderung menyalahkan sopir angkutan, tanpa terlebih dahulu memastikan penyebab kemacetan di kawasan pelabuhan tersebut.
“Dikit-dikit kok supir yang disalahkan. Perlu diketahui, 78 persen angkutan batu bara di Provinsi Bengkulu ini milik masyarakat, bukannya milik pengusaha,” beber Yurman.
Lebih jauh dikatakannya, dari berbagai asumsi yang disampaikan, perlu kiranya kantong parkir ataupun pemegang IUP memastikan jam operasional yang dinilai belum urgen.
“Tetapi bagaimana PT Pelindo II Regional Bengkulu itu agar melakukan pembenahan-pembenahan. Sehingga kemacetan tidak lagi terjadi,” demikian Yurman.
Radarinformasinews


