Daftar Anggota
  • Berita
  • Perang Rusia Versus Ukraina, Ini Skenario Solusi yang Diusulkan Partai Perindo untuk Dunia Internasional
Perang Rusia Versus Ukraina, Ini Skenario Solusi yang Diusulkan Partai Perindo untuk Dunia Internasional
Ketua DPP Partai Perindo Bidang Hankam & Cyber Security DR. Susaningtyas N.H. Kertopati

Perang Rusia Versus Ukraina, Ini Skenario Solusi yang Diusulkan Partai Perindo untuk Dunia Internasional

Jumat 25 Februari 2022 18:50 WIB

JAKARTA -- Partai Persatuan Indonesia (Perindo) mengusulkan sejumlah skenario yang dapat ditempuh dunia internasional sebagai solusi untuk mengakhiri perang antara Rusia melawan Ukraina.

"Terdapat beberapa skenario yang dapat ditempuh dunia internasional untuk mengakhiri perang," kata Ketua DPP Partai Perindo Bidang Hankam & Cyber Security DR. Susaningtyas N.H. Kertopati, Jumat (25/2/2022).

BACA JUGA: Ketua DPP Partai Perindo: Indonesia Harus Mewaspadai Efek Domino Perang Rusia vs Ukraina
 
Beberapa skenario itu, kata Susaningtyas, yaitu Pertama, gencatan senjata dan turun tangannya PBB. Kedua, NATO mengerahkan kekuatan penuh mengalahkan Rusia dan memukul Rusia di wilayahnya sendiri. Ketiga, Ukraina menang perang berlarut.

Susaningtyas juga berpesan agar pemerintah Indonesia mewaspadai dampak perang bagi perekonomian Indonesia. Sejumlah langkah strategis harus disiapkan secara matang guna mengantisipasi kemungkinan terburuk bagi kondisi sosial-politik di Indonesia.

"Jadi efek dominonya yang paling penting adalah harga pangan impor naik diikuti kenaikan barang lokal, biaya logistik melonjak, harga BBM menanti subsidi yang lebih besar dan lonjakan harga minyak tak dapat dihindari," tegas Susaningtyas yang juga sebagai Pakar Pertahanan dan Militer ini.

Selain antisipasi di dalam negeri, Indonesia juga harus waspada atas kemungkinan negara tertentu mengambil kesempatan ketika dunia internasional sibuk menghadapi Rusia. Gelar operasi militer di Laut Natuna Utara harus tetap dilaksanakan.

"Jangan sampai terjadi serangan mendadak yang dapat merugikan pertahanan Indonesia. Hal yang penting, pemerintah kita harus segera mengevakuasi WNI di Ukraina," pungkas Susaningtyas.

Dia menyebutkan perang antara Rusia versus Ukraina akhirnya meletus seperti banyak diperkirakan oleh para pakar dan pengamat. Konflik menahun sejak wilayah Ukraina di Krimea diduduki Rusia pada tahun 2014 berujung serbuan Rusia di bagian Timur Ukraina.

"NATO dipimpin Amerika Serikat ternyata gagal melaksanakan diplomasi pertahanan untuk mencegah perang. Kepentingan NATO juga belum tentu dibuktikan untuk membela Ukraina sebagai salah satu anggotanya," ujarnya.

BACA JUGA: Untuk informasi dan registrasi keanggotaan Partai Perindo, kunjungi bit.ly/MemberPartaiPerindo. 

Sejak 2014, NATO tidak memberikan reaksi yang proporsional terhadap Rusia. Strategi pendangkalan NATO juga tidak efektif mencegah Presiden Rusia Putin memerintahkan operasi militer secara masif. Perang yang terjadi di Balkan saat ini masuk dalam kategori perang asimetris dari perspektif ilmu Pertahanan.

"Rusia adalah kekuatan yang superior dan Ukraina adalah kekuatan yang inferior. NATO berusaha menancapkan kekuasaannya di Ukraina yang secara geografis berbatasan langsung dengan Rusia," kata Susaningtyas.

BACA JUGA: Untuk informasi tahapan dan mekanisme Konvensi Rakyat, kunjungi konvensirakyat.com

Diakuinya, perbandingan kekuatan militer dan anggaran perang jelas dimiliki Rusia. Di atas kertas Rusia pasti ingin melaksanakan perang dalam waktu secepat-cepatnya, sementara Ukraina pasti melancarkan perang berlarut.

"Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan superior seperti Rusia ternyata kalah di Afghanistan. Amerika Serikat juga kalah di Vietnam dan Afghanistan," tegas Susaningtyas.