Daftar Anggota
  • Berita
  • Perolehan Suara Menyusut, Caleg Partai Perindo Andro Rohmana Protes ke KPU soal Penerapan Sirekap
Perolehan Suara Menyusut, Caleg Partai Perindo Andro Rohmana Protes ke KPU soal Penerapan Sirekap
Caleg DPR RI dari Partai Perindo menunjukkan dugaan pengurangan perolehan suaranya yang tercatat di dalam Sirekap KPU, Selasa (20/2/2024).

Perolehan Suara Menyusut, Caleg Partai Perindo Andro Rohmana Protes ke KPU soal Penerapan Sirekap

Rabu 21 Februari 2024 14:20 WIB

KOTA MADIUN - Kejanggalan dalam proses penghitungan suara di Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) KPU dibeberkan Andro Rohmana.

Caleg DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Jatim VIII itu mengaku sempat mencatat perolehan suaranya tembus 10.822 suara di 7.183 TPS pada 17 Februari 2024 pukul 23.00 WIB.

Tapi, pada selang dua hari kemudian sekitar pukul 23.00 WIB, perolehan suaranya yang tercatat di Sirekap berkurang menjadi 7.036 suara dari 11.618 TPS. 

‘’Hal ini sangat tidak wajar. Apalagi kita sama-sama memahami bahwa asas pemilu itu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil,’’ kata Andro, Selasa (20/2/2024).

Kendati hasil rekapitulasi secara manual telah disampaikan KPU secara berjenjang, Andro menilai lembaga penyelenggara pemilu itu tidak mumpuni dalam menerapkan sistem penghitungan secara elektronik.

Sebaliknya, Andro makin dibuat jengkel ketika mendapatkan penjelasan bahwa Sirekap dipakai KPU sebagai alat kontrol penghitungan suara semata.

‘’Ketika terjadi masalah dan viral baru bersikap. Jadi, tolong pemilu jangan dibuat seperti main-main. Wajib dipersiapkan sebaik-baiknya. Karena ini menyangkut penegakan kedaulatan rakyat serta menjawab bagaimana arah masa depan bangsa ke depan,’’ terang caleg dari Partai Perindo itu.

Menurutnya, KPU tidak bisa seenaknya dalam menyelenggarakan pesta demokrasi. Apalagi, anggaran pemilu cukup besar. Sehingga, masalah semacam ini bisa diantisipasi sejak awal. Selain itu, fitur optical character recognition (OCR) dan optical mark recognition (OMR) dalam Sirekap tak berfungsi optimal.

Imbasnya, terjadi perbedaan data manual dengan input system.

‘’Harusnya bisa diantisipasi dengan fitur error checking. Misal, maksimal data tiap TPS dibatas agar anomali bisa diantisipasi,’’ beber Andro.

Tak hanya itu, kerancuan Sirekap menyusahkan jutaan petugas TPS. Mulai KPPS, PPS, PTPS dan saksi. Mereka harus bekerja mati-matian akibat sistem yang kurang mumpuni.

‘’Kami sangat mengeluhkan kesiapan dalam penyelenggaraan dan mengelola data pemilu. Ini terkesan seperti dibuat-buat. Jadi, wajar jika banyak masyarakat yang curiga dan menduga timbulnya dugaan kecurangan,’’ tandasnya.

Radarmadiun.com