Rekrutmen Caleg yang Baik Berpengaruh pada Perolehan Suara Partai
Jumat 03 Desember 2021 20:13 WIBJAKARTA - Anggota Dewan Pembina Perludem Titi Anggraini mengatakan dalam sistem pemilu, proses rekrutmen calon anggota legislatif merupakan sesuatu yang utama. Dia mempengaruhi bagaimana partai bisa memperoleh suara dan dikonversi menjadi kursi.
"Kalau proses pencalonan tidak baik, maka akan berpengaruh juga dalam kerja-kerja pemenangan partai," kata Titi saat menjadi pembicara pada Webinar bertajuk Konvensi Rakyat: Jalan Baru Menuju Demokrasi yang Lebih Sehat, Jumat (3/12/2021). .
Menurut Titi, di Indonesia kalau bicara rekrutmen politik, khususnya calon anggota legislatif, selalu narasi dibicarakan adalah bagaimana memastikan pengaturan di dalam UU partai politik dan UU Pemiul.
Pasal yang menjadi perhatian adalah bahwa bakal calon anggota DPR dan DPRD itu diseleksi berdasarkan kaderisasi secara demokratis sesuai AD dan ART Partai dan atau peraturan internal partai politik.
"Di sinilah kemudian terjadi distorsi karena dipersempit pada lingkup internal partai dengan AD, ART dan peraturan partai maka kemudian kebijakan internal partailah yang menentukani bagaimana design rekrutmen itu akan dibentuk dan dibuat.
Kalau orientasi partainya ingin pragmatis maka mekanismennya akan bekerja pada skema yang pragmatis. Kalau kemudian desain partai diarahkan untuk skema inovatif, inklusif, dan transparan, maka akan terjadi seperti itu.
Dia juga mengemukakan salah satu realitas yang ada menunjukkan dalam proses rekrutmen politik di Indonesia dilakukan secara tertutup elitis dan tidak akuntabel. Proses itulah yang nantinya dapat membuat jarak bagi anggota dan pemilih.
"Hal ini akhirnya membuat rekrutmen politik citranya sangat jauh dari politik gagasan, tetapi menjadi politik elitis, politik yang dekat dengan siapa yang berkuasa di partai," jelasnya.
Menurut Titi, hal itu nantinya berimplikasi pada sebuah tendensi terjadinya praktik politik transaksional. Sebab, banyak terdengar kabar burung bahwa untuk melanggeng ke dunia politik membutuhkan mahar.
"Kita mendengar untuk mendapat nomor 1 harus sekian ratus juta bahkan miliar. Nah hal-hal ini justru membuat kredibilitas rekrutmen politik yang demokratis tadi akhirnya menjadi tidak tercipta," katanya.
Terkait hal itu dia menyarankan rekrutmen Caleg harus didesain secara terukur dan mampu dinilai akuntabilitasnya oleh publik. Selain itu harus memperluas keterlibatan pemilih dalam menentukan caleg yang akan diusung.
Dan yang penting lagi adalah rekrutmen caleg didesain mampu berkontribusi pada relasi ideologis antara partai, caleg dan anggota partai dengan menjadikan proses pencalegan berangkat dari dukungan basis anggota/pemilih atau konstiuen.


