Rescue Perindo: Suhu Panas Berdampak terhadap Kesehatan, Kekeringan dan Kebakaran Hutan
Kamis 12 Mei 2022 13:09 WIBJAKARTA -- Cuaca panas yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia diprediksi akan menimbulkan sejumlah efek, terutama terhadap kesehatan, kekeringan dan kebakaran hutan.
Ketua Umum DPP Rescue Perindo Adin Denny mengatakan dampak suhu panas yang cukup tinggi saat ini dikarenakan adanya perubahan cuaca dari musim penghujan ke musim kemarau. Perubahan iklim ini patut diwaspadai karena akan menyebabkan sejumlah efek bagi masyarakat.
"Perubahan iklim yang ekstrem tersebut dapat memberikan efek terhadap kesehatan manusia," kata Adin di Jakarta, Kamis (12/5/2022).
BACA JUGA: Untuk informasi dan registrasi keanggotaan Partai Perindo, kunjungi bit.ly/MemberPartaiPerindo
Misalnya, lanjut Adin, dampak cuaca panas adalah dehidrasi yang dapat menimbulkan berbagai gangguan fungsi temporer sampai permanen, tergantung lamanya dehidrasi itu terjadi.
"Yang perlu diperhatikan kita adalah mengurangi kegiatan di atas jam 10 ke atas dan tetap minum air yang cukup apabila berada di luar gedung untuk menghindari dehidrasi," pesan Adin.
Adapun perubahan iklim ke musim kemarau juga akan menyebabkan terjadi kekeringan khususnya di wilayah di Indonesia timur.
Hal ini juga akan berdampak kepada kurangnya ketersediaan air bersih untuk warga, semisal bagi masyarakat yang bertempat tinggal di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Bagi wilayah yang berdampak kekeringan seperti NTT dan NTB juga perlu jadi perhatian dan juga akan menyebabkan kekurangan air bersih," ungkapnya.
Tidak hanya itu, memasuki cuaca ekstrim hal yang perlu diwaspadai adalah kebakaran hutan. Terik panas matahari dapat memantik api pada ilalang yang menyebabkan terjadi kebakaran hutan yang hebat.
BACA JUGA: Untuk informasi tahapan dan mekanisme Konvensi Rakyat, kunjungi konvensirakyat.com
Selain itu, ia juga menyoroti lahan kering kebun sawit juga perlu menjadi perhatian. Adin mengingatkan pemilik kebun sawit atau perusahaan untuk tidak melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar.
Pasalnya, jika itu dilakukan akan berakibat terjadinya kebakaran besar pada kebun-kebun sawit sampai ribuan hektare yang kabutnya mencapai negara tetangga.
"Perubahan iklim ekstrim bisa memunculkan terbakarnya ilalang kering yang gampang terkena api dan menjadi hutan terbakar," pungkas Adin.


