Atasi Pengangguran Sarjana di Jatim, Cak Jaz Perindo Dorong Ekosistem Kerja Berbasis Kompetensi
SURABAYA - Persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi di Jawa Timur (Jatim) tidak cukup diatasi dengan menambah lowongan pekerjaan. Kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan dunia usaha dan kemampuan mengubah keahlian menjadi sumber penghasilan menjadi bagian penting yang perlu dibenahi.
Ketua DPW Partai Perindo Jawa Timur Ahmad Zazuli mendorong pembangunan ekosistem kerja yang mempertemukan pendidikan, kompetensi, kebutuhan industri, kesempatan, pasar hingga pendapatan. Lulusan tidak hanya menunggu lowongan sebagai pencari kerja, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai dari keahlian yang dimiliki.
“Gejala ini harus kita lihat sebagai gejala perubahan sistem kerja dan perubahan karakter pencari kerja. Bagaimana terjadi kesesuaian antara kebutuhan pencari kerja dengan lapangan kerja yang tersedia,” ujar Ahmad Zazuli, Selasa (15/9/2026).
Urgensi pembenahan tersebut tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim. Pada Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan universitas mencapai 6,04 persen, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Sementara TPT Jawa Timur berada di level 3,55 persen.
Kondisi tersebut, kata Zazuli, menunjukkan gelar pendidikan tinggi belum otomatis menjamin seseorang terserap ke dunia kerja. Karena itu, lulusan perlu diperkuat agar mampu membaca kebutuhan ekonomi dan mengubah kompetensi yang dimiliki menjadi sesuatu yang bernilai.
Perindo Jatim mendorong perubahan paradigma dari job seeker menjadi value creator.
Lulusan tidak hanya diarahkan menunggu perusahaan membuka lowongan, tetapi diperkuat dengan kemampuan dan diberi kesempatan untuk menghasilkan produk, jasa maupun karya yang dapat mendatangkan pendapatan.
“Jangan sampai lulusan hanya menunggu perusahaan membuka lowongan. Kita harus menciptakan kesempatan agar mereka dapat menghasilkan sesuatu, memiliki pasar dan memperoleh pendapatan dari kompetensi yang mereka miliki,” tutur pria yang akrab disapa Cak Jaz.
Langkah tersebut perlu ditopang pelatihan yang berorientasi pada kebutuhan pasar, bukan sekadar mengejar sertifikat. Kompetensi yang didorong antara lain digital marketing, pengelolaan media sosial, content creation, teknologi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan serta kewirausahaan.
“Tidak semua orang harus menjadi entrepreneur. Tetapi setiap lulusan harus mampu menciptakan nilai. Ketika bekerja di perusahaan, dia menciptakan nilai bagi perusahaan. Ketika menjadi freelancer, dia menjual kompetensinya. Ketika menjadi pengusaha, dia menciptakan produk dan bahkan membuka pekerjaan bagi orang lain,” terangnya.
Namun, kompetensi perlu diikuti akses agar menghasilkan dampak ekonomi. Perindo Jatim mendorong keterhubungan pelatihan dengan pasar, kemitraan, pembiayaan dan pendampingan sehingga kemampuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai keterampilan, tetapi dapat berkembang menjadi sumber penghasilan.
Dia juga mendorong kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, industri dan komunitas. Kampus dapat memperkuat keterhubungan pembelajaran dengan kebutuhan industri, dunia usaha memberi ruang pengalaman kerja, sedangkan pemerintah memperluas akses terhadap program pengembangan keterampilan, pembiayaan dan pasar.
“Berikan mereka kesempatan, perkuat kompetensinya, dampingi prosesnya, bukakan akses pasarnya. Ketika mereka mampu menghasilkan sesuatu dan mendapatkan keuntungan finansial, maka kita bukan hanya mengurangi pengangguran, tetapi sedang membangun manusia yang produktif dan mandiri,” tegas Zazuli.


