Daftar Anggota
  • Berita
  • Buka Akses Ekonomi dari Wilayah 3T, Willem Assem Dorong Pembangunan Lapangan Terbang di Maybrat
Buka Akses Ekonomi dari Wilayah 3T, Willem Assem Dorong Pembangunan Lapangan Terbang di Maybrat
Buka Akses Ekonomi dari Wilayah 3T, Willem Assem Dorong Pembangunan Lapangan Terbang di Maybrat

Buka Akses Ekonomi dari Wilayah 3T, Willem Assem Dorong Pembangunan Lapangan Terbang di Maybrat

SORONG — Pembangunan ekonomi di wilayah terpencil tidak cukup hanya berbicara soal bantuan. Bagi masyarakat yang tinggal di daerah 3T, akses transportasi menjadi salah satu prasyarat agar layanan dasar, mobilitas, dan kegiatan ekonomi dapat bergerak.

Karena itu, anggota DPRD Papua Barat Daya dari Partai Perindo, Willem Assem, mendorong pembangunan lapangan terbang baru di Distrik Aifat Timur, Kabupaten Maybrat. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk membuka keterisolasian transportasi udara sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan dan kegiatan ekonomi.

“Hal ini saya lakukan atau dorong dengan tujuan untuk membuka isolasi transportasi udara, membantu masyarakat yang berada di daerah 3T. Semoga mempermudah aktivitas atau akses-akses pelayanan kepada masyarakat,” kata Willem.

Menurut Willem, kebutuhan terhadap transportasi udara semakin terasa ketika akses darat menghadapi persoalan. Jalan rusak, longsor, atau jembatan terputus dapat membuat masyarakat kesulitan keluar dari wilayahnya. Dalam kondisi seperti itu, lapangan terbang dapat menjadi jalur alternatif, termasuk untuk membawa warga yang sakit atau menghadapi kondisi darurat.

Dorongan pembangunan tersebut telah dilakukan Willem sejak 2025 bersama masyarakat dan sejumlah kepala distrik. Masyarakat turut membuka dan merintis lahan, sebelum usulan pembangunan diteruskan kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya. Pemerintah kemudian memprogramkan tahap awal berupa pembersihan lahan dan pembentukan badan lapangan terbang. Willem menargetkan pesawat dapat mendarat di lokasi tersebut sebelum 2029.

Bagi Willem, pembangunan lapangan terbang bukan semata proyek infrastruktur. Akses transportasi yang lebih terbuka akan menentukan seberapa jauh masyarakat di pedalaman dapat terhubung dengan pusat pelayanan sekaligus pasar. Produk pertanian masyarakat, misalnya, membutuhkan jalur distribusi yang memungkinkan hasil produksi bergerak keluar dan kebutuhan masyarakat dari luar dapat masuk.

Cara pandang tersebut sejalan dengan semangat Perindo Pro Ekonomi, yang menempatkan pembangunan dan penguatan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari kerja politik. Partai Perindo menyebut penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan produktivitas, serta terbukanya kesempatan usaha dan kerja sebagai bagian dari arah kebijakannya.

“Ini merupakan salah satu bentuk keterlibatan sebagai anggota DPR, Partai Perindo, di pelosok, seluruh pelosok Tanah Air, dan salah satunya yang ada di Provinsi Papua Barat Daya,” ujar Willem. Ia mengatakan pembangunan serupa juga perlu didorong di daerah lain yang masuk kategori 3T agar masyarakat di wilayah terpencil memperoleh akses yang lebih baik.

Upaya membuka akses ekonomi itu juga diikuti dengan dorongan terhadap produktivitas masyarakat. Willem mengajak masyarakat di wilayah pedalaman untuk memanfaatkan lahan dengan menanam padi dan berladang. Sejumlah mesin penggiling padi juga telah dipesan untuk mendukung kegiatan tersebut.

“Kita mendorong masyarakat di wilayah-wilayah pedalaman untuk bergerak menanam padi, berladang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” kata Willem.

Dengan demikian, semangat Pro Ekonomi yang dibawa Perindo di Papua Barat Daya tidak berhenti pada bantuan kepada masyarakat. Infrastruktur, akses transportasi, dan produktivitas pangan ditempatkan sebagai bagian dari upaya membuka kesempatan ekonomi dari wilayah yang selama ini masih menghadapi keterisolasian.