Pemuda Perindo Sulut Sebut Hari Kesaktian Pancasila Moment Memperkuat Persatuan dan Kesatuan Anak Bangsa
Jumat 01 Oktober 2021 21:14 WIBJAKARTA -- Ketua DPW Pemuda Perindo Sulawesi Utara (Sulut) Fricilia V Rumajar memaknai Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober sebagai moment untuk memperkuat persatuan dan kesatuan anak bangsa dalam mengenang peristiwa berdarah Gerakan 30 September (G30S)-PKI.
"Pancasila dilambangkan dalam burung Garuda yang memiliki semboyan berbeda-beda, tetapi tetap satu jua atau biasa disebut Bhinneka Tunggal Ika," kata Fricilia V Rumajar dalam keterangannya, Jumat (1/10/2021).
Monumen Pancasila Sakti dengan Burung Garuda membentangkan sayap diapit 7 perwira yang menjadi korban peristiwa G30S-PKI menunjukan bukti sejarah yang tidak boleh dilupakan penerus bangsa dan negara Indonesia, khususnya bagi Pemuda Perindo.
"Burung Garuda digunakan sebagai lambang negara untuk menggambarkan bahwa negara Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat, ini yang perlu dihayati oleh Pemuda Perindo dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila ini," ujarnya.
Seperti diketahui, untuk informasi dan registrasi keanggotaan Partai Perindo, kunjungi www.partaiperindo.com.
Dia berpesan dalam memaknai Hari Kesaktian Pancasila, seluruh kader dan pengurus Pemuda Perindo untuk terus mengembangkan sikap adil terhadap sesama serta menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta tak lupa untuk selalu berdoa.
"Dan mencerminkan sikap yang luhur, gotong-royong dan suka membantu sesama seperti halnya yang sering dilakukan Partai Perindo khususnya Pemuda Perindo di seluruh Indonesia," ungkap Fricilia V Rumajar.
BACA JUGA: Soal Dugaan Suap, Politisi Partai Perindo BU Tak Ingin Penerimaan Guru PPPK Tercoreng
Diketahui, setiap 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kebangkitan Pancasila untuk mengenang jasa para pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S-PKI. Para pahlawan revolusi itu terdiri dari 6 perwira tinggi dan 1 perwira menengah yang menjadi korban dalam peristiwa G30-S PKI.
Ketujuh pahlawan revolusi itu di antaranya yaitu; Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Suprapto, Mayor Jenderal MT Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal D I Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo dan Lettu Pieere Andreas Tendean yang merupakan ajudan dari Jenderal Besar Abdul Haris Nasution yang masuk daftar jenderal yang diculik G30S-PKI.


