Daftar Anggota
  • Berita
  • Soal Konten Video Porno, Ketum LBH Perindo: Pemerintah Harus Konsisten
Soal Konten Video Porno, Ketum     LBH Perindo: Pemerintah Harus Konsisten
Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Perindo Ricky Margono

Soal Konten Video Porno, Ketum LBH Perindo: Pemerintah Harus Konsisten

Senin 18 April 2022 12:39 WIB

JAKARTA - Dea Onlyfans atau Gusti Ayu Dewanti, tersangka kasus konten pornografi mendapatkan banyak tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat. Hal itu dikarenakan adanya keseriusan kepolisian dalam menangani kasus pornografi tersebut.

Menanggapi hal itu, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Perindo Ricky Margono mengatakan, langkah kepolisian telah tepat dalam menangani hal tersebut.

BACA JUGA: Untuk informasi dan registrasi keanggotaan Partai Perindo, kunjungi bit.ly/MemberPartaiPerindo

Namun, ujar Ricky, perlu adanya keseriusan pemerintah terkait kasus-kasus yang serupa. Jika tidak, nantinya akan menciptakan konten-konten porno yang terus bertebaran di Indonesia.

"Pemerintah harus konsisten menjalani peraturan yang ada. Kalau tidak konsisten akan ada Dea Dea yang lain," ujar Ricky dalam Podcast Aksi Nyata #DariKamuUntukIndonesia di laman akun YouTube Partai Perindo, Minggu (17/4/2022).

BACA JUGA: Untuk informasi tahapan dan mekanisme Konvensi Rakyat, kunjungi konvensirakyat.com

Bagi Ricky, adanya konsen pemerintah terkait aktris porno tersebut bisa dijadikan tolok ukur dalam menimbang kasus-kasus yang serupa nantinya.
Terlebih, hal itu menunjukan bahwa Indonesia menegaskan penolakan terkait pornografi dan pornoaksi.

"Nah, sekarang Dea sudah masuk, dalam artian perkaranya sudah masuk. Sudah bisa diproses segala macem, memang ini berharap menjadi sebuah pembelajaran karena memang ini heboh juga ya," jelasnya.

BACA JUGA: UU TPKS Berlaku, Partai Perindo Malang: Tak Ada Ruang bagi Kekerasan Seksual di Indonesia

Menurut Ricky, ke depannya tinggal bagaimana keseriusan pemerintah bersama kepolisian dalam menanggapi hal serupa. Karena, kasus ini layaknya pilot project.

"Karena polisi Indonesia itu udah canggih alat-alatnya, jadi tergantung mau atau enggak (menanganinya). Inikan seperti pilot project, liat yang lain keringet dingin gak, kalau yang lain masih berbuat, sikat," tuturnya.

Okezone